Sabtu sore, saya keluar rumah tanpa daftar tempat yang harus dikunjungi. Biasanya perjalanan dimulai dengan mencari rekomendasi, menyimpan lokasi, lalu menghitung apakah semuanya bisa didatangi sebelum malam. Kali ini saya memilih satu ruas jalan yang sering dilewati dengan kendaraan. Saya ingin tahu apa yang selama ini terlalu cepat terlewat.
Saat berjalan, jalan yang sama ternyata punya ukuran berbeda. Jarak antartoko terasa lebih panjang, suara dari dalam warung terdengar lebih jelas, dan trotoar yang rusak meminta perhatian sendiri. Saya berhenti di depan bengkel kecil karena ada sepeda lama yang sedang dibongkar. Dari kendaraan, bengkel itu biasanya hanya lewat sebagai bayangan.
Tidak setiap sudut menyenangkan. Ada bagian jalan yang panas, kendaraan parkir menghalangi langkah, dan tempat menyeberang yang membuat saya memilih memutar. Hal-hal seperti ini ikut membentuk pengalaman berkunjung. Foto yang bagus bisa melewatkannya dengan mudah. Berjalan memberi waktu untuk melihat bagaimana sebuah tempat digunakan, termasuk bagian yang merepotkan orang setiap hari.
Di sebuah warung, saya memesan minuman dan duduk dekat pintu. Pemiliknya sedang berbicara dengan pelanggan lain tentang toko yang baru tutup. Saya lebih banyak mendengar. Sesekali percakapan berpindah ke hujan dan harga bahan belanja. Tidak ada cerita besar yang perlu dibawa pulang, hanya kabar kecil dari lingkungan yang jarang saya perhatikan.
Saya sengaja tidak segera mengambil foto. Ada keinginan untuk memastikan bahwa saya benar-benar melihat tempat itu. Gelas yang retak di bagian gagang, kursi yang bergoyang sedikit, kipas yang mengarah ke meja kosong. Setelah beberapa menit, satu foto terasa cukup. Sisanya boleh menjadi ingatan yang tidak tersimpan di galeri.
Cara berjalan seperti ini juga membuat saya lebih hati-hati dengan kamera. Rumah orang, pelanggan yang sedang makan, dan pekerja yang sibuk tentu punya urusan masing-masing. Kalau ingin memotret seseorang dari dekat, saya bertanya dulu. Kadang jawabannya tidak. Perjalanan tetap berjalan, dan saya bisa mencari hal lain yang menarik untuk diperhatikan.
Setelah keluar dari warung, saya berbelok ke jalan yang belum pernah dipilih. Di situ ada toko alat jahit, penjual makanan yang sedang menutup lapak, serta halaman sekolah yang mulai sepi. Saya tidak mencoba menyusun semuanya menjadi rute terbaik. Salah belok masih terasa wajar selama saya tahu bagaimana kembali ke jalan utama.
Biaya sore itu hanya minuman dan makanan kecil. Namun, murah bukan satu-satunya alasan saya menyukainya. Saya tidak perlu menghabiskan waktu membandingkan penginapan atau menyesuaikan jadwal dengan banyak orang. Kalau lelah, saya bisa pulang. Kalau menemukan tempat yang menarik, saya bisa tinggal lebih lama tanpa merasa mengorbankan tujuan berikutnya dalam daftar.
Menjelang gelap, saya mulai mencari jalan pulang. Beberapa toko menyalakan lampu, suara kendaraan bertambah, dan orang-orang membawa belanjaan melewati warung yang tadi saya singgahi. Saya mengenali tikungan tertentu dari arah yang berbeda. Kota yang biasanya menjadi latar perjalanan ke kantor sore itu terasa mempunyai lebih banyak hal untuk diperhatikan pelan-pelan.
Di rumah, saya hanya membawa satu foto dan nama warung yang ingin dikunjungi lagi. Tidak ada daftar panjang yang berhasil dicentang. Minggu depan saya mungkin berjalan ke arah lain, melewati pasar atau menyusuri jalan dekat stasiun. Untuk sementara, rasa ingin tahu itu cukup. Saya belum memerlukan tiket untuk menggunakannya lagi.
