Saya membuka ponsel untuk melihat jam. Beberapa menit kemudian, saya sudah membaca percakapan grup, melihat foto makan siang orang lain, dan mengecek kiriman paket yang belum bergerak sejak kemarin. Jamnya malah lupa. Kejadian seperti ini terasa terlalu biasa sampai sulit dibedakan dari kegiatan yang memang perlu dilakukan lewat layar kecil itu.
Tidak ada aplikasi baru yang menjadi penyebab tunggal. Ponsel saya berisi hal-hal biasa: pesan, peta, kamera, perbankan, dan beberapa media sosial. Semuanya berguna pada waktunya. Masalah muncul ketika satu keperluan menjadi pintu masuk untuk lima kegiatan lain, sementara pekerjaan yang tadi hendak diselesaikan tetap terbuka di meja tanpa banyak perubahan.
Saya sempat mencoba mengandalkan niat. Pagi hari membuat janji untuk tidak sering mengecek layar, sore hari menyadari janji itu sudah dilupakan. Akhirnya saya mulai memperhatikan kapan tangan bergerak mengambil ponsel. Sering kali gerakan itu muncul saat menemui bagian pekerjaan yang membosankan, atau ketika harus memikirkan kalimat yang belum juga selesai.
Perubahan pertama cukup kecil: menaruh ponsel di ujung meja dengan layar menghadap ke bawah. Masih bisa dijangkau kalau diperlukan, tetapi tidak terus terlihat. Cara ini tidak membuat saya tekun. Setidaknya, setiap kali ingin mengambilnya, saya punya satu detik tambahan untuk bertanya apa yang sebenarnya ingin saya buka saat itu.
Berikutnya saya memeriksa notifikasi satu per satu. Pesan dari orang yang perlu menghubungi saya tetap masuk. Pemberitahuan promosi, pembaruan permainan, dan ajakan melihat unggahan baru saya matikan. Ada bedanya antara seseorang yang sedang membutuhkan jawaban dan aplikasi yang ingin dikunjungi. Sebelumnya, keduanya sama-sama mendapat kesempatan memotong perhatian lewat bunyi serupa.
Saya juga memindahkan beberapa aplikasi dari halaman depan. Langkahnya terasa remeh, tetapi cukup membantu memutus urutan yang sudah otomatis: membuka kunci, mengetuk ikon, lalu menggulir. Sekarang ada sedikit usaha untuk mencarinya. Kadang usaha kecil itu membuat saya ingat bahwa tujuan awal membuka ponsel hanyalah mengatur alarm atau membalas satu pesan.
Tentu saja, kebiasaan lama masih muncul. Saat menunggu makanan, saya tetap mudah mengambil ponsel. Begitu juga ketika pekerjaan sedang terasa berat. Saya tidak ingin menghitung setiap kejadian sebagai kegagalan. Yang saya perhatikan adalah apakah saya masih memilih kegiatan itu, atau sekadar melakukannya karena ada jeda yang terasa perlu segera diisi.
Ada pula urusan sosial yang harus dipikirkan. Kalau biasanya membalas pesan dengan cepat, perubahan kebiasaan bisa membuat orang bertanya-tanya. Saya mencoba memberi tahu teman kerja kapan saya biasanya membaca pesan, sambil tetap menyediakan cara menghubungi untuk urusan mendesak. Pengaturannya mengikuti kebutuhan sehari-hari, bukan aturan ketat yang justru membuat komunikasi menjadi rumit.
Hal yang paling terasa adalah pekerjaan kecil lebih sering selesai sebelum saya berpindah. Satu paragraf ditulis sampai tuntas. Catatan belanja tidak berhenti di tengah. Saat makan bersama, saya bisa mengikuti cerita tanpa berkali-kali meminta bagian yang terlewat diulang. Perubahan ini sederhana dan kadang hilang lagi pada hari yang sibuk.
Ponsel itu masih sama. Layarnya tetap terang, baterainya masih perlu diisi, dan aplikasi favorit saya belum dihapus. Bedanya, saya mulai punya alasan yang lebih jelas ketika mengambilnya. Malam ini saya ingin membaca pesan seorang teman, lalu meletakkannya kembali. Kalau berhasil, buku yang sejak tadi terbuka mungkin akhirnya mendapat giliran dibaca.
